Kamis, 03 Mei 2012

Facebook oh Facebook...


                                  Facebook Telah Membawanya Kepadaku
         “Cici jangan pergi lama-lama yaa !” dengan cadel dan suara hendak menangis Yus memegangi ujung bajuku, tatapan matanya seperti memohon satu janji yang pasti. Aku mencium pipi putihnya dan berjanji pada adik kecilku, namun dengan sarat keraguan kuucapkan paksa kalimat ini  “Iya… Cici janji, Cici gak akan lama-lama perginya dan akan kembali lagi, Cici dan Abang akan main bersama-sama lagi.” Aku akhirnya berangkat dengan mama, aku menengok ke belakang berharap masih melihat sosok kecil berambut tipis, berkulit putih, bermata sipit dan selalu memanggilku Cici, panggilan adik ke kakak perempuannya. Taksi sudah sangat menjauh dari kediaman kami yang terbuat dari dari kayu di kampung dalam di daerah Batam sana. Saat itu usiaku baru tujuh tahun, dan Yus adik laki-laki kesayanganku baru berumur empat tahun, tak pernah kusangka aku akan berpisah dari sosok mungil teman bermainku dan janji yang penuh keraguan itu tak pernah terwujud.
          Saat itu ingin sekali kembali turun dari taksi yang membawa kami ke pelabuhan. Aku ingin kembali ke rumah kayu itu dan tak akan pergi dari adik kecilku, tinggal bersama dia dan papa, tak usah ikut mama, jika aku pergi siapa yang akan menemani Yus bermain, makan, dan berdoa ?  Ada yang perih rasanya di perutku saat itu, mataku pun basah namun ku tahan agar tangisku tidak pecah. Ku tahan segenap sedih yang menyesakkan dadaku, aku tak mau mendengar mama bertanya mengapa aku menangis sementara mama sebenarnya sudah tahu jawabnya. Ketika itu aku hanya berharap waktu lekas berlalu, membawaku menjadi dewasa agar aku bisa kembali lagi ke tanah ini di mana tanah bermain ku yang terakhir bersama Yus. Lekas dewasa agar aku bisa pahami keputusan mama yang membagi siapa ikut siapa dan siapa membawa siapa. Yaahh… perpisahan orang tua memang kerap menjadikan anak-anak sebagai korban. Terpisah satu dengan yang lainnya, tak utuh dan membawa perih dan trauma luar biasa. Seperti yang ku rasa hingga dampaknya masih membekas dihitungan umur ku yang dua tahun lagi genap berkepala tiga. Hingga aku menanamkan tekad di hatiku, apa pun yang terjadi pada rumah tanggaku (mudah-mudahan tidak) anak-anakku tidak boleh hidup terpisah mereka harus tetap bersama.

          Beberapa bulan aku masih sering menerima surat-surat papa yang kebanyakan berasal dari Singapura. Papa saat itu memang seorang pelaut dan sering menitipkan adikku pada keluarga teman-temannya atau tetangga. Hingga Yus hendak masuk sekolah dasar barulah Yus dititip di Bitung, keluarga papa. Namun aku masih belum bisa berkomunikasi langsung dengan Yus hanya lewat surat-surat papa aku tahu kondisi Yus. Ditahun ketiga menjelang kelulusan smp komunikasi dengan papa akhirnya terputus sama sekali. Aku bingung tak tahu harus menghubungi papa dan Yus kemana. Surat-surat yang terkirim tak pernah mendapat balasan dan akhirnya aku hanya bisa mencari mereka lewat doa.
         Aku pun menikah selepas smu dan hobiku menulis masih berlanjut. Mengenal internet baru di sekitaran tahun 2007-2008. Kesibukanku sebagai irt dan mengurus anak membuatku tak banyak waktu mengenal internet lebih jauh lagi. Ketika facebook mulai booming aku sama sekali belum tertarik hingga di titik kerinduanku pada adik dan papa menyeruak lagi dan memiliki ide mengapa tak mencari jejak mereka di dunia maya. Namun lagi-lagi keaktifanku dalam dunia maya masih belum sepenuhnya, aku harus ikut ke seberang pulau ikut suami dan niat mencari adikku di dunia maya terurung jua.
          Tahun 2010 di bulan desember menjelang tahun baru aku mulai mengaktifkan kembali akun facebook yang sebenarnya sudah ku buat di tahun sebelumnya. Satu persatu kawan lama dan kawan baru masuk dalam kehidupanku. Sesekali aku menulis status tentang pencarian papa dan adikku itu. Hanya sedikit yang merespon, aku akhirnya menemukan tempat yang sangat mengasyikkan yaitu berkumpul di grup-grup yang berisi orang-orang yang punya hobi,minat dan impian yang sama yaitu menulis dan menjadi penulis. Sampai suatu hari ada teman yang mengatakan bahwa temannya pernah mendengar nama adikku itu, dengan secepat kilat ku ketik nama adikku itu di pencarian dan…. Ia kutemukan !… Adik kecilku kini menjelma menjadi seorang pemuda yang gagah,berkaca mata dan cerdas pula. Aku segera mengirimkan permintaan pertemanan, mengirimkan pesan bahwa aku sangat ingin berteman dengannya. Yaa… aku sengaja memang tidak mengungkap siapa aku sebenarnya. Ia hanya tahu jika ada seorang ibu muda, status menikah, dan beranak dua ingin menjadi temannya. Tak lupa aku meminta nomer ponselnya dan menunggu respon dirinya.
          Permintaan pertemananku diterima, pesan di kotak masuknya dibalas pula, ia pun mengirimkan nomer ponselnya meski harus menunggu. Sore itu juga aku menelponnya dengan debar jantung tak karuan, bunyi tuuut…tuuutt… itu terdengar berkali-kali hingga akhirnya suaranya dari seberang menyapaku dengan ramah. Segenap perasaan ku tekan sebisa mungkin agar terdengar normal. Aku tak membuka identitasku yang sebenarnya takut ia menolakku karena janjiku yang tak bisa kupenuhi “ Jangan pergi lama-lama,Ci”  Sebisa mungkin ku mengorek keterangan keluarga menurutnya dan benar ia mengakui bahwa ia punya mama dan kakak perempuan di suatu kota di daerah Sulawesi Selatan. Aku lega… akhirnya ia kutemukan di dunia maya bernama facebook yang membawa ia kembali padaku. Doaku bertahun-tahun terkabul sudah…
         Malamnya aku kembali mengirimkannya pesan pendek, bertanya-tanya seputar pekerjaan dan kuliahnya. Akhirnya aku pelan-pelan memberi petunjuk siapa aku sebenarnya, siapa sesungguhnya teman facebook barunya ini. Ia pun tanggap dengan pesan-pesan pendek yang menyiratkan banyak pertanda. Ia meminta aku menelponnya jika benar aku cici-nya seperti dugaan awal ketika ia melihat foto profilku di facebook. Dengan tangan gemetar aku menekan tombol panggilan, tanpa perlu menunggu aku langsung mendengar suara tangisnya yang pecah di ujung sana. Rasa tak percaya, rindu yang menggunung, suka cita, dan kesedihan yang tertahan dua puluh tahun meledak di pertengahan malam di awal bulan maret 2010. Menit-menit pertama yang terlewat hanya diisi dengan suara tangis kami berdua, barulah beberapa saat kemudian kami saling bertukar cerita apa yang terjadi pada kami dua puluh tahun selama kami berpisah. Rasa syukur  tak terkira ku panjatkan kepada Allah SWT semata, jalan panjang yang ditempuh dalam pencarian berakhir di sebuah akun facebook. Bukan hanya keluarga yang hilang telah kutemukan tapi juga berjuta impian telah ku dapatkan disini. Kawan-kawan yang menakjubkan dan tak akan terlupakan. Ini adalah kisahku tentang facebook, suatu keajaiban dunia maya menurutku, dan ku yakin bukan hanya aku saja yang mengalaminya karena di tempat lain kawan-kawanku menemukan belahan jiwa mereka dan membina rumah tangga yang berawal dari sebuah akun di facebook. Betul… Betul…Betul… ? : )

Rabu, 25 April 2012

Peri Bonie

Penting kah sebuah nama pena ? aku menjawab penting bagiku. Aku membutuhkan sosok baru dalam kehidupanku, aku tak ingin membawa diriku yang lama dan usang masuk ke dalam dunia baruku. Sosok lama itu harus aku tinggalkan agar bisa mendapatkan spirit yang berbeda. Aku butuh "merk dagang" yang bisa mewakili dunia baruku, karena ada harapan baru, doa- doa baru, dan semangat serta orientasi baru di dalamnya.
Peri Bonie.....
Peri merupakan nama putri sulungku Permata Putri Zhafirah
Bonie merupakan panggilan kesayangan Aisyah Maulidha yang terdengar lucu di telingaku.
This my new brand yang akan menjadi my brand new, forget about MJ karena roh yang mengalir di setiap tulisanku adalah milik Peri Bonie ....

Minggu, 15 April 2012

Blogku Sayang Apa Kabar ?

          Andai saja "rumahku" yang ini benar-benar berwujud rumah saat kutengok sekarang pastinya sudah sangat berdebu dan berjelaga. Lama tak mengunjungi dan menulis sesuatu disini dan saat ini jemariku memang sangat kaku menghentak-hentak di atas keyboard leptop hitam milikku satu-satunya. Tak ada hal spesial yang ingin kutulis dan kubagi. Aku hanya merasa aku saat ini seperti sedang terbangun dari mimpi buruk dan mendadak rindu pada blog kesayanganku ini. Yaa sebuah mimpi buruk yang real terjadi dalam kehidupanku. Tak ingin ku bagi mimpi buruk apa tapi memang sangat membuatku terpuruk bahkan percaya atau tidak sejenak aku kehilangan hasrat menulisku. Aku benci menulis dan lama tak menyentuh leptopku sendiri. Aku hanya bisa membuat beberapa kalimat pendek untuk status fb ku yang mengundang banyak tanya sahabat-sahabatku di sana.
          Inilah hidup,kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Perjalanan ini pun aku tak tahu akan berakhir seperti apa. Aku malah sempat mempertanyakan ini nasib atau takdir kah ? tapi tak ada gunanya mempertanyakan itu yang terpenting adalah bagamana menghadapinya,menjalaninya dan berjuang melanjutkan hidup. Tapi satu hal yang tak padam dalam hatiku setelah kejatuhan totalku yaa meski wujudnya hanya pendar temaram, aku masih ingin jadi penulis... keinginan yang temaram itu masih menyala. Aku ingin menuliskan semua yang terjadi dan berbagi agar orang yang membacanya bisa mengambil hikmahnya tapi kapan hal itu terwujud aku belum tahu. Jujur langkahku masih pincang, aku masih terseok-seok berjalan di realita baru kehidupanku jadi belum terpikir kapan harus serius menuliskan apa yang ingin ku bagi dengan dunia.
          Suatu hari... yaa suatu hari nanti aku pasti hidup normal lagi, aku akan punya hasrat menulis seperti dulu lagi dan harus lebih menyala kelak. Aku akan hidup lebih baik dan lebih bahagia lagi nanti. Doakan saja aku agar berhasil melalui ini dan bisa mewujudkan mimpiku yang tertunda....

Kamis, 01 Desember 2011

Amazing Race Go To Samarinda !

          Abangku beserta keluarga kecilnya tiba jam satu siang setelah nyasar hingga km 38 Samboja, abangku ini ternyata sempat juga lho bawa oleh-oleh berupa satu kantong kresek ukuran sedang yang berisikan kepiting hasil tangkapannya sendiri di tambaknya. Ouuhhh.... aassipaa'naaa (enaknyaaa) orang Makassar bilang he he he ... aku juga sudah lama tidak menyantap kepiting yang gemuk begini (hmm apa ada istilah gemuk buat kepiting yaa ? ) pokoknya dagingnya banyak laahh.... : )  Setelah makan siang aku beserta kakak ipar, ponakan dan mama mutar-mutar di daerah samboja km 38, mau cari bank terdekat karena aku harus membayar tiket pulang ku yang time limitnya hingga jam 4 sore kala itu. Wookeeehh... lets goo kids ! ponakanku senang sekali jalan denganku ditambah baru kali ini mereka bertemu dengan auntie nyentrik ala backpacker yang cantik he he he .... auntieeee gak segitunya kaleeee.... setelah atmnya ketemu aku sama rombongan kecil ini mampir dulu beli kelapa muda, itu buat mama katanya jika air kelapa muda ditanbah dengan air perasan jeruk nipis bisa membuat tekanan darah tinggi mama turun,hmmm baiklah mama... nikmati laah : D
         Abangku memang sengaja tidak ikut kebetulan dirumah mama adik iparku yang satu lagi (suami adik bungsuku ) datang berkunjung karena faktor kebetulan juga, kebetulan si adik iparku habis wawancara di perusahaan tambang tak jauh dari rumah mama sehingga ia mampir dan bertemu dengan abangku yang baru pertama kalinya juga mereka saling bertatap muka. Tak lama mutar-mutar di km 38 kami pulang, aku masih berpikir keras apa aku harus ikut dengan mereka ke Samarinda, secaraa aku masih capek berat boooo... bagaimana tidak perempuan petualang ini baru saja membuka petualangan barunya setelah sekian lama tidak bepergian jauh dan bobot badan yang naik khas emak-emak rumahan yang nyaman dengan rutinitas sehari-hari tanpa sering bepergian jauh, wal hasil aku kelelahan....
     " Kalo si Ria (panggilanku dalam keluarga,Ana trade mark ku di luar ) ini tidak mau ikut dengan kita sekarang angkat kopernya itu bawa ke Samarinda !" ancam si abang setengah serius dan bercanda.
    " Whuaa Baaang ! Jangaaan dooong ! Sumpah Bang,aku masih cape banget... " ujarku memelas.
    " Ayoo laah Ummi... (panggilanku dari semua ponakanku) ikut kami lah ke Samarinda, kapan lagi Ummi mau kesana coba ?" bujuk Alya putri sulung abangku dengan tatapan yang oohhh... membuatku luluh. Ok baik, aku memutuskan untuk ikut ke Samarinda, aku merasa ini seperti amazing race,baru saja semalam di rumah mama sudah dibawa ke rumah abang, tapi kalimat Alya masuk akal juga,kapan lagi coba ? he he he ....
         Aku cuma membawa tas seperlunya saja karena disana aku hanya dua malam saja, tapi tak lupa juga kubawa bboy item manis si leptop kesayanganku,maklum rumah mama dapat jatah listrik cuma dari jam enam magrib sampai jam enam pagi,jadi aku tidak bebas menghidupkannya di siang hari. Kakak iparku membawa pulang oleh-oleh nenas batu khas Samboja yang kami beli di tengah jalan menuju rumah mama, aku pikir harganya sangat muraaaahh ukuran besar sepuluh ribu dapat tiga buah, ukuran sedang dapat empat dan yang kecil dapat enam ! Segar,manis dan murah,andai ringan ku bawa terbang hingga ke Sul-Sel.... Mobil yang dirental abangku mulai bergerak dari rumah mama jam lima sore dan yiiiihhaaa.... perjalanan di mulai lagi. Sangat menyenangkan dan menegangkan,agar tak terlalu kemalaman pak sopir melaju kendaraan hingga menunjukkan angka 80-100 di speedometer mobil... beberapa kali perutku mengalami ... apa yaa namanya... rasanya seperti sedang naik wahana atau roller coaster yang membuat aliran darah serta jantungku sseeerrrrrr..... secaraaa.... jalanan ini hampir mirip dengan jalanan ke arah Toraja (hayooo... siapa yang pernah kesana ? ) hanya saja yang ku jalani ini naik-turun naik-turun dan berbelok, di Toraja jalanan lumayan datar tapi tikungannya yang sungguh mematikan yaa maksudnya bagi yang rentan dengan mabuk kendaraan darat. Huuuffthh... benar-benar amzazing race ! Aku sesekali melirik cemas pada ponakanku Bair adik laki-laki Alya yang kata mamanya sempat muntah saat menuju Samboja, aku pikir jika anak ini muntah lagi oohh... nooo... pertahananku pasti akan jebol juga,tapi alhamdulillah selama di perjalanan ia dan Alya tertidur lelap. Nyaris sepanjang perjalanan aku ngobrol dengan abangku dan kakak iparku yang manis,bertukar cerita tentang apa saja yang terjadi dalam hidup kami selama sekian tahun tidak bertemu,cukup lama lima tahunan lebih ada. Sampai akhirnya aku benar-benar lelah dan lelap di setengah jalan menuju rumah abangku.
         Langit sudah pekat saat kami masuk di tengah kota Samarinda, abangku memilih rumah makan dengan makanan khas lesehan, lagi-lagi aku tidak menemukan makanan khas Samarinda,seperti apa rupa lauk pauknya, kakak iparku cuma menyebut kata amplang saja yang bisa ku bawa pulang nanti. Aku rasa bukan perutku saja yang ngetwit lapar dari tadi kami semua makan dengan lahapnya, abangku dan pak sopir memilih ikan mas bakar sebagai lauknya dan ayam bakar yang kami pilih untuk segera dibantai he he he ... aku memang sangat laparrrr..... Makananku tinggal sedikit lagi ketika tiba-tiba saja Bair yang baru berusia empat tahun berlari keluar dari rumah makan dan hendak menyeberang jalan,aku segera memburunya karena khwatir dengan lalu lintas malam yang padat, ouhh.. ternyata dia menunjuk pada toko pakaian di seberang jalan yang menjual aneka baju kaos yang tenyata woow kuning,gambar mata bulat dan besar serta hidung panjang serta berbadan kotak,yuup ! Bair tenyata pecinta berat Sponge Bob..... waduuhh sabar yaa Sayang Ummi habiskan makanan dulu baru kita kesana... bujukku pelan.
         Daaaan... ternyata saudara-saudara .... abangku beserta keluarga kecilnya ini bukan menetap di kota Samarinda,tepatnya di Muarabadak Ulu yang pak sopir bilang sejam perjalanan lagi. Oke .... tak apa hanya melintas di Samarinda saja yang penting bisa tiba di rumah abangku dengan selamat. Maka perjalanan dilanjutkan kali ini aku kurang menikmatinya karena sudah malam,di balik jendela mobil aku hanya bisa menangkap keremangan perjalanan,aku memutuskan tidur saja di sisa waktu ini. Jam sembilan malam kami tiba juga di rumah abang,setelah bersih-bersih sejenak dan diberi baju ganti oleh kakak iparku hanya satu fokus utamaku saat itu, " Kak, mana bantal dan selimutku ? "
         Saat menulis ini aku juga sudah diserang kantuk jadi .... maaf pembaca lain kali aku sambung lagi dengan perjalanan pulang yang tak kalah serunya daa daaahh  zzzz.....zzzz...zzz.....

Selasa, 22 November 2011

Sehari Menjadi Ninja Hatori

          Aku menyeret koper miniku dengan hati riang walau tak dapat ku sangkal lelah ini sudah mendera hingga ke tulang belulangku, tapi setelah dipeluk mama....... hhhhh.... semua lelah lunas tak akan kucari lagi. Ransel yang  menjadi tumpuan harapan leptopku pun masih setia bertengger di punggungku yang andai bisa teriak sudah minta tolong ingin diluruskan. Mama segera mencari taksi dan menyusur jalan daerah Sepinggan tak lupa pada sopir taksi mama meminta untuk diturunkan di rumah makan yang dekat dengan angkot menuju rumah mama, yaa okelah memang lambung serta usus-ususku sudah berontak tak karuan semenjak di pesawat tadi. Sekitar lima belas atau dua puluh menit pak sopir berhenti di depan sebuah rumah makan yang cukup luas, karena menurunkan koper aku kurang memperhatikan papan nama rumah makan itu. Setelah mobil taksi itu berlalu dan kami berdua akan memasukinya aku baru sadar nama rumah makan itu Rumah Makan Angin Mamiri lengkap dengan segala hidangan khas Sulawesi Selatan,sambil cengar cengir tidak jelas aku ikut saja di belakang mama, baru setelah kami duduk dan mama memesan makanan aku berbisik pada mama " Ma, jauh-jauh datang dari Sul Sel dapatnya coto Makassar juga ?" mama tertawa lebar dan terjawab pertanyaan dalam hatinya mengapa anak perempuannya yang satu ini dari tadi senyum-senyum aneh sendirian. Mama mewanti-wanti aku agar makan banyak karena perjalanan ke rumah mama masih jauh. Apaaaa... ? masih ada sejam lagi ? buseeet rumah baru mama di mana sih ? aku tak sempat memikirkannnya lagi karena dihadapanku sudah tersaji dengan indahnya paha ayam bakar dengan sambal terasi yang orang kampungku bilang Marasaaaaa..... ! (enaaaaak !) : )
          Sehabis makan dan mengatur persiapan energi aku sedikit bersantai menunggu mama yang sedang bernegosiasi harga dengan seorang sopir angkot yang tampaknya mau membawa kami di luar dari rute yang biasa ia lalui, kesepakatan harga lima puluh ribu rupiah dua orang hingga sampai di Samboja km 48, aku pikir-pikir waaah... mahal juga karena dari rumahku ke kampung nenek di selatan kota Palopo aku membayar dengan harga sepuluh ribu rupiah dengan jarak yang sama,tapi tak apalah yang penting bisa sampai dengan segera. Sepanjang perjalanan aku dan mama berbincang dari ujung timur hingga ujung barat,hmm maksudnya semua cerita kehidupan seruku bersama anak-anak dan seputar saudara-saudaraku yang lain. Okey.... sudah sejam labih dan kami pun tiba di km 48, mama dan aku turun di pertigaan jalan dan mama menunjuk jalan kecil yang akan kami lalui lagi, haaaah..... lagi mamaaa ? tak ada angkot masuk,tak ada ojek apalagi sepeda,oh.. ya sepanjang jalan aku juga memang mempertanyakan apa sepeda laku disini ? Jalanannya itu lhoo naik turun, lagi-lagi aku berpikir hanya orang nekat saja yang memakai sepeda di daerah seperti ini. Tapi tak usah khawatir ternyata penyambutanku memang sudah disiapkan secara matang oleh mama, mama meminta tolong tetangga agar menjemput kami di pertigaan luar ini. Ohh.... mama sungguh dikau beruntung memiliki tetangga yang baik hati ; )
          "Mendaki gunung turuni lembah sungai mengalir indah ke samudra bersama teman bertualang" Yeesss aku masih ingat lirik lagu ninja hatori ini yang mewakili perasaanku saat itu tapi bukan gunung yang aku daki cuma bukit itu pun dibonceng motor sama tetangga mama, naik turun...naik turun... sepanjang empat km... dan sepanjang mata memandang aku menangkap satu pemandangan yang membuatku mendadak segar, kebun buah nenas..... wuuiidiihhhh..... bikin ngiler ditengah terik matahari begini, beberapa kali aku melewati rumah penduduk yang menjual nenas di depan rumahnya benar-benar fresh from the garden nih... Disatu sisi lain aku menjatuhkan pandanganku pada kawasan tambang batu bara di sela-sela perbukitan yang kami lalui, saat itu masih jam kerja jadi aku masih bisa melihat para truk-truk pengangkut batu bara berseliweran. Ok... stop... kami sudah sampai, kehadiranku disambut beberapa tetangga yang ramah. Setelah beberapa saat beramah tamah tak sabar aku ingin menghempaskan badanku yang hampir remuk kelelahan menempuh perjalan lima belas jam menuju pelukan mama dan ketika mataku hampir rapat terlelap ponselku berdering, nama abangku yang nomer dua tertera disana, "halo bang..., iya dah sampai baru saja, iya bang dijemput mama, iya bang... Haaaaaahhh.... apa ?! Abang besok datang sama kakak dan anak-anak buat jemput aku ke Samarinda ? "  aku tertegun sejenak dan berpikir What Amazing Race..........
          Tunggu ceritaku tentang Samarinda yaaaaa.....

Rabu, 16 November 2011

Menapaki Jalan Cinta Menuju Pelukan Mama

          Jam sepuluh malam saat mata ku sudah mulai sepet di pepet ngantuk bis yang ku tumpangi menuju Makassar mulai bergerak meninggalkan terminal Palopo. Masih teringat suara mama yang agak lemah dengan keluhan tekanan darahnya yang naik, aku merasa mama memang sudah mulai tua karena seingat ku saat mama muda dulu mama tipe perempuan pekerja keras dan jarang mengeluhkan kesehatannya hanya pegal badan saja yang ia gumamkan saat berisitirahat melepas penat seharian di mesin jahit tuanya. Mama kangen, itu inti dari percakapan ku dengan mama beberapa hari yang lalu dan atas rejeki yang telah diatur oleh Allah aku memutuskan menuju Kalimantan Timur sana menjenguk mama. Roda bis berputar dengan cepat membuat laju yang seakan membawaku terbang di tengah kepekatan malam, AC bis ku atur agar tak terlalu dingin, bis yang lumayan nyaman karena dilengkapi dengan selimut dan bantal kecil, yaa setimpal dengan kedalaman kocek yang ku rogoh lebih dalam lagi. Walau tak nyenyak-nyenyak amat paling gak aku masih bisa sempat tertidur lah  hingga tak akan ku rasa kebosanan di sepanjang perjalanan yang gelap, diselingi dengan up date status atau sekedar menengok beranda rumah dunia mayaku.
          Bandara Sultan Hasanuddin jam lima pagi, turun dari bis malam itu aku bergegas mencari toilet untuk melepaskan semua rasa tidak enak yang mengganjal perutku dan ... oh maigat.... antri... ada belasan perempuan juga di dalamnya yang sedang menunggu salah satunya nyaris tak bisa menahan hajatnya hingga marah-marah menunggu giliran, yaa memang tiga dari lima bilik WC bandara sedang ngadat tak dapat digunakan, aku juga sampai ill fell menahan gelora kebelet buang air kecil yang sudah di ujung tanduk. Setelah berjuang menahan dan tunggu giliran akhirnya keluar juga aku dari kerumunan yang penuh keluh kesah itu, melirik lagi jam dinding bandara waktu baru beranjak setengah jam saja dari jam lima, langit subuh mulai meremang menyambut pagi, lapar pun menyergapku seketika. Tapi tenang aku sudah menyiapkan persiapan tempur ouw.. maksudku traveling, roti keju dikombine coklat ditemani kopi krim kotak siap mengawali sarapanku pagi ini sambil menunggu waktu chek in pukul tujuh teng ! Bandara pagi semakin ramai dengan para calon penumpang yang tengah siap terbang ke berbagai penjuru wilayah Indonesia. Setengah tujuh seseorang menyapaku ramah menanyakan tujuanku yang ternyata bakal satu pesawat denganku hanya saja mba yang benama Surti ini akan melanjutkan perjalanan ke Samarinda lagi sementara aku stop dulu di Balik Papan. Sambil menunggu jam tujuh pas kami berbincang bertukar pengalaman soal perjalanan karena kebetulan lagi kami sama-sama pernah di Papua tetapi mba Surti di Manokwari aku di Wamena .
          Ruang Boarding..... yang menurutku bisa membuat boring... aku sedang berusaha menghemat baterai hapeku karena tidak lucu saat di jemput di bandara Sepinggan nanti aku tidak bisa dihubungi karena hapeku mati dan mereka akan kesulitan mencariku. Kegiatan tengok menengok ke beranda rumah dumay ku hentikan sejenak dan baiklah... lebih baik kumatikan saja sekarang hape imutku yang kata si sulungku mulai amit-amit mamaaaa.... Aku masih berbagi cerita dengan mba Surti dan berbagi roti, mba ini juga orang yang punya banyak pengalaman merantau sejenak aku berpikir iya... kayaknya darah bugis itu memiliki gen merantau yang cukup besar dan mendominasi pada orang-orang tertentu. Contohnya mama dan kakak laki-laki ku yang sudah bertahun-tahun tak pulang kampung dan memilih mencari peruntungan di pulau bagian lain di Indonesia.
         Pesawat lepas landas.... dan akan kulanjutkan kisah menapaki jalan cinta ini dengan judul lain yang lebih  menarik jangan lewatkan SEHARI MENJADI NINJA HATORI !

Rabu, 02 November 2011

Fira Dan Garansi Gigi

          Fira putri sulung saya sudah berumur tujuh tahun dan kelas 1 SD dia seperti anak-anak kecil kebanyakan gemar bermain, nonton film kartun, dan dia paling gemar menyanyi. Tapi satu hal yang ia takuti,ia takut jika ia berdarah, ketika ia sedang bermain dan tiba-tiba terluka ia menjadi sangat panik dan menangis jika melihat lukanya mengeluarkan darah, ia berbeda dengan adiknya yang justru sama sekali tidak takut dengan darah. Kini tibalah masanya bagi gigi-gigi susu Fira tanggal satu persatu. Kejadian tanggal gigi yang pertama terjadi beberapa bulan lalu yang diikuti dengan gigi-gigi lainnya hingga saat ini. Saat itu dua gigi seri atasnya memang sudah longgar tapi ia sama sekali tak mau jika gigi-gigi yang keropos itu dicabut. Telah bergantian kami membujuknya,mulai dari saya, bapaknya, mama saya,dan almarhum bapak saya, tapi tak ada yang bisa membujuk Fira agar mau buka mulut, ia akan segera berlari dan masuk kamar,mengunci diri berjam-jam jika kami mulai membahas giginya yang akan dicabut.Tentu saja alasan yang ia gunakan karena ia takut dengan darah. Hingga suatu hari ia sedang bermain dengan adiknya dan tak sengaja kepala Aisyah membentur giginya yang longgar hingga nyaris tercabut sendiri,gusinya berdarah,ia menangis keras dan memperlihatkan kepadaku giginya yang sudah bergeser dari tempatnya, tanpa diduga almarhum bapak saya memegangi Fira,membuka mulutnya dan segera mencabut gigi yang bahkan akarnya pun sudah terlihat. Yaa... Allah... diluar dugaan Fira menangis meraung,mengamuk,dan sangat marah pada kami,namun saya jadi tersenyum geli,ia berkata sambil menangis,
             " Kembalikan gigiku....! Dimana gigiku sekarang ! Ayo Mama pasang lagi, Fira tidak mau
               ompong,sekarang Fira tidak punya gigi... Nenek Papa (kakek) ! kembalikan gigi Firaaa !
               pasang kembali di tempatnya, ayoo cari gigiku !"
Saat itu kami semua menahan tawa karena Fira minta giginya di"garansi" sambil menangis ia memandangi gigi seri keroposnya yang ia temukan di lantai. Saya berusaha menjelaskan apa yang akan terjadi pada giginya,
            " Ini gigi jeleknya Fira,tidak lama lagi gigi bagus Fira tumbuh di tempat yang baru dicabut,
              Fira tunggu saja."
            " Tapi sekarang Fira ompong, tidak punya gigi,nanti Fira ditertawai,Fira malu,"
            " Tidak usah malu,setiap anak mengalami ompong juga sampai gigi bagus itu tumbuh,dan masih ada
               gigi-gigi jelek Fira yang lain yang akan longgar dan harus dicabut,kalau tidak susunan gigi Fira
               nanti jelek lho"
Fira masih sesegukan,lama ia menangisi gigi susunya itu,dan sepertinya saya masih kerepotan jika ada lagi gigi Fira yang tanggal,ia ketakutan jika giginya harus dicabut bahkan ketika kemarin pun saat di dokter gigi ia masih mengamuk dan tidak terima harus kehilangan gigi walau ia sudah tahu kelak gigi bagusnya tumbuh lagi. Yaaa... dan kali ini saya harus bisa membujuknya lebih ekstra agar gigi geraham depannya mau dicabut kali ini ia tidak minta garansi gigi tapi weekend di sebuah permandian di pinggir kota,hmmm.... baiklah Nak....